Glibenklamid
OBAT ANTIDIABETES GLIBENKLAMID
Menurut American Diabetes
Association (ADA), diabetes mellitus merupakan suatu penyakit yang disebabkan
karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau bisa karena kedua-duanya
yang juga merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia.
Berdasarkan data pada laporan World Health Organization (WHO) menyebutkan dari
57 juta kematian global di tahun 2008, 36 juta atau 63% disebabkan karena
penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes kanker, dan penyakit
pernafasan kronis.
Diabetes melitus adalah suatu keadaan yang timbul
karena defisiensi insulin relativ yang terjadi jika produksi indulin tidak
sesuai dengan kebutuhannya maupun defisiensi absolute yang terjadi jika
pancreas tidak berfungsi lagi dalam mensekresi insulin.
Glibenklamid
(ISO,
2006), (Hardjasaputra, 2002)
Indikasi dari obat glibenklamid yaitu kontrol
Hiperglikemia pada diabetes non insulin dependen yang tidak dapat dikontrol
dengan diet dan biguanid,Sebagai pengganti obat hipoglikemik oral yang lain
(biguanid atau sulfonilurea)disebabkan efek samping atau kegagalan respon.
Efek
Samping yaitu Hipoglikemia
merupakan efek samping utama glibenklamid yang biasanya bersifat ringan,tetapi
kadang – kadang bisa bersifat berat dan berkepanjangan. Efek samping yang
jarang terjadi adalah ikterus kolestatik ringan.
Obat hipoglikemik oral dari golongan sulfonylurea Glibenklamid
memiliki mekanisme kerja :
1. Merangsang sekresi insulin dari sel-sel β-Langerhans; menurunkan
keluaran glukosa dari hati; meningkatkan sensitivitas sel-sel
sasaran perifer terhadap insulin
2. Sulfonilurea seperti Glibenklamid mengikat kanal
kalium ATP-sensitif pada permukaan sel pankreas, mengurangi konduktansi kalium
dan menyebabkan depolarisasi membran. Depolarisasi merangsang masuknya ion
kalsium melalui tegangan saluran kalsium -sensitif, meningkatkan
konsentrasi intraseluler ion kalsium, yang menginduksi sekresi, atau
eksositosis, insulin.
3. Menstimulasi pelepasan insulin dan sel beta (β)
Pankreas, mengurangi output glukosa dari hati, sensitivitas insulin meningkat
di lokasi sasaran perifer.
Mekanisme terjadinya Efek Samping
Hipoglikemi
: Pada pengobatan jangka panjang efek samping yang dapat terjadi yaitu hipoglikemi. Hal ini dapat terjadi
karena peningkatan efek insulin terhadap
jaringan perifer dan penurunan pengeluaran glukosa dari hati (efek ekstra
pankreatik).
Ikterus
kolestatik ringan : akumulasi abnormal
pigmen bilirubin terjadi akibat pelepasan albumin yang ditransfor oleh protein
pembawa Y dan Z menuju endoplasmic hati terhambat.
Sumber
-
Hardjasaputra, P.S.L, Budipranoto,
G,Sembiring, SU,Kamil,I. 2002. Data Obat di Indonesia edisi 10. Grafidian
Medipress, Jakarta.
Pertanyaan
1. Bagaimana cara mencegah efek samping dari glibenklamid ?
2. Apakah aman bagi penderita Hipertensi mengkonsumsi glibenklamid ?
3. Bagaimana efek yang ditimbulkan pada obat glibenklamid kombinasi dengan metforfin, apakah efek yang ditimbulkan lebih baik atau sebaliknya ?
Pertanyaan
1. Bagaimana cara mencegah efek samping dari glibenklamid ?
2. Apakah aman bagi penderita Hipertensi mengkonsumsi glibenklamid ?
3. Bagaimana efek yang ditimbulkan pada obat glibenklamid kombinasi dengan metforfin, apakah efek yang ditimbulkan lebih baik atau sebaliknya ?


Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusdari yg saya baca dgn adanya kombinasi antara metformin dan glibenklamid dapat memperkuat kerja obat tersebut
BalasHapusSaya akan menambahkan jawaban dari permasalahan no 3.
HapusKombinasi ini sangat cocok digunakan untuk penderita diabetes melitus tipe 2 pada pasien yang hiperglikemianya tidak bisa dikontrol dengan single terapi (metformin atau glibenklamid saja), diet, dan olahraga. Di samping itu, kombinasi ini saling memperkuat kerja masing-masing obat, sehingga regulasi gula darah dapat terkontrol dengan lebih baik. Kombinasi ini memiliki efek samping yang lebih sedikit, apabila dibandingkan dengan efek samping apabila menggunakan monoterapi (metformin atau glibenklamid saja). Metformin dapat menekan potensi glibenklamid dalam menaikkan berat badan pada pasien diabetes melitus tipe 2, sehingga cocok untuk pasien diabetes melitus tipe 2 yang mengalami kelebihan berat badan (80% dari semua pasien diabetes melitus tipe 2 adalah terlalu gemuk dengan kadar gula tinggi sampai 17-22 mmol/l).
Cara mencegah efek samping dari glibenklamid adalah dengan mengonsumsi obat sesuai dosis yang dianjurkan karena efek samping yg paling sering ditimbulkan adalah hipoglikemia maka kita harus memperhatikan gejala2 hipoglikemia,
BalasHapusuntuk menghilangkan efek samping nya mungkin akan berhbungan dg reseptor, namun untuk menguranginya, dapat dilakukan terapi non farmakologis juga, seperti gerakan ringan untuk badan seperti jalan pagi (jogging) dan mengubah pola hidup sehat dimana dilakukan pembatasan konsumsi lemak dan makanan dengan kadar glukosa berlebih agar kadar glukosa tetap ada walaupun konsumsinya dibatasi, sehingga kadarnya normal tidak mencapai hipoglikemi
BalasHapusdan untuk penggunaan metformin bersama glibenklamid sendiri bila salah satu terapi tersebut tidak mencapai efek terapi yang diinginkan
1. salah satu cara mencegah efek msamping adalah gunakan sesuai dosis yang ada, Dosis umum pemakaian glibenclamide adalah 2,5 mg hingga 5 mg dalam satu hari. Dosis akan direvisi atau bisa diubah sesuai dengan respon tubuh terhadap obat. Resep dari dokter jarang melebihi 15 mg per harinya, jadi apabila dosisnya tidak berlebih, maka efek toksik akan dicegah.
BalasHapus3. Glibenklamid merupakan antidiabetes golongan sulfonylurea generasi II yang dapat menstimulasi produksi insulin. Sedangkan, metformin dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan menghambat pembentukan glukosa di hati. Metformin ini memiliki efek samping pada saluran pencernaan. Efek samping lainnya dari penggunaan obat antidiabet ini adalah kadar gula yang terlalu rendah (hipoglikemik) yang dapat membahayakan pasien jika tidak segera diberi penanganan yang tepat.
BalasHapusBerdasarkan studi klinik, kombinasi metformin dan glibenklamid dapat mengontrol kadar gula dengan lebih baik dibandingkan penggunaan tunggal. Studi klinis ini dilakukan pada 411 pasien diabetes yang secara random diberikan metformin 500 mg, glibenklamid 5 mg, dan kombinasi metformin-glibenklamid. Selain itu, efek samping berupa hipoglikemik dan gangguan saluran cerna juga lebih rendah dan cukup dapat ditoleransi pasien. Hal tersebut disebabkan dosis masing-masing pada penggunaan kombinasi ini lebih rendah dibandingkan dosis pada terapi tunggal. Studi klinik lainnya, dilakukan terhadap produk tablet kombinasi metformin dan glibenklamid menunjukan bahwa dengan kombinasi dapat mengontrol gula darah puasa dan postprandial (gula darah 2 jam setelah makan) lebih efektif dibandingkan penggunaan tunggal. Dilihat dari farmakokinetiknya pun, penggunaan kedua obat secara bersamaan tidak saling mengganggu satu sama lain.